Konsep Realistis Studi Kelayakan di Industri Pertambangan

Konsep Realistis Studi Kelayakan di Industri Pertambangan

Bagikan

12 Januari 2024

Oleh Aldin Ardian – Chief Strategy Officer (CSO) PT Studio Mineral Batubara (SMB) dan dosen UPN “Veteran” Yogyakarta

Industri pertambangan sudah terkenal sebagai industri padat modal dan berisiko tinggi. Bahkan menurut beberapa literatur tidak sedikit proyek pertambangan berakhir dengan kegagalan atau paling tidak 80% proyek mengalami over-budget hingga 43%. Hal tersebut menunjukkan bahwa ketidakpastian di industri ini tergolong tinggi. Kegiatan eskplorasi gagal menemukan sumberdaya yang layak tambang, lokasi tambang yang berada di area hutan lindung, naiknya komponen biaya dari rencana, bahkan jatuhnya harga komoditas yang menyebabkan proyek yang sudah dianalisis menjadi tidak layak untuk dilanjutkan ke tahap selanjutnya. Analisis untuk menentukan proyek pertambangan dianggap layak atau tidak biasa disebut dengan studi kelayakan atau feasibility study (FS).

Parameter dalam Penyusunan FS

Pada FS, sumberdaya hasil eksplorasi direkayasa sedemikian rupa sesuai dengan sistem/metode penambangan, teknologi, parameter-parameter keekonomian, dan parameter-parameter lain yang diperlukan menjadi suatu rencana kegiatan pertambangan yang sistematis dari awal hingga akhir (mine closure dan reklamasi). Saat ini, dokumen FS memberi gambaran kelayakan proyek berupa nilai net present value (NPV), internal rate of return (IRR), dan payback period sebagai penentu apakah proyek tersebut layak atau tidak.

Suatu proyek, secara teoritis, dianggap layak jika nilai NPV lebih dari 0, nilai IRR lebih tinggi daripada return investasi bebas risiko (misal: bunga deposito dan imbal-hasil obligasi), dan nilai payback period lebih kecil daripada umur tambang. Padahal, jika didalami, nilai tiga parameter tersebut dapat direkayasa dengan cara mengubah asumsi nilai-nilai variabel di dalam perhitungannya. Asumsi harga komoditas, asumsi faktor recovery penambangan/pengolahan, asumsi biaya, dan nilai discount rate merupakan variabel-variabel sensitif yang dapat mengubah nilai NPV, IRR dan payback period secara signifikan dan cepat.

Variabel dalam FS Bersifat Statis

Lebih jauh lagi, nilai variabel-variabel yang digunakan dalam FS bersifat statis (tetap) dan berdasarkan asumsi. Misalnya, harga acuan komoditas batubara terakhir adalah $100/ton, harga tersebut digunakan secara statis pada tahun-tahun selanjutnya hingga akhir umur tambang. Contoh lainnya adalah penggunaan asumsi pada nilai recovery. Nilai recovery dianggap cukup normal pada kisaran 80% hingga 95%. Padahal, tingkat peningkatan recovery berdampak pada tingkat peningkatan NPV yang lebih tinggi. Dengan kata lain, sebut saja dengan menaikkan recovery 5%, dapat meningkatkan NPV lebih dari 5% karena recovery berdampak langsung pada pendapatan tanpa meningkatkan biaya penambangannya. Begitu juga dengan nilai IRR yang akan meningkat dan payback period akan lebih singkat hanya dengan menggunakan nilai asumsi recovery yang lebih besar.

Pengaruh Nilai Discount Rate terhadap NPV

Selain dari variabel-variabel dalam aliran kas (cash flow), parameter NPV sangat bergantung pada nilai discount rate yang merupakan representasi dari risiko dan menjadi variabel penting untuk perhitungan nilai sekarang (present value). Tidak ada standar baku dalam penentuan nilai discount rate. Tiap analis atau expert dapat memiliki nilai discount rate berbeda berdasar metode maupun pengalaman pribadi. Analis dapat berargumen nilai discount rate berkisar antara 5% hingga 12%. Akibatnya, untuk menampakkan NPV yang menarik, nilai discount rate rendah diaplikasikan pada perhitungan. Sebaliknya, untuk memberikan kesan investasi yang relatif aman, nilai discount rate yang tinggi biasa digunakan. Pada penelitian Smith (2002), perbedaan pendapat tentang penggunaan nilai discount rate pada suatu proyek pertambangan dapat mengubah nilai NPV hingga 50%, angka yang besar untuk sebuah investasi.

Konsep Probabilitas sebagai Metode dalam Penentuan Kelayakan Proyek Pertambangan

Oleh karena itu, artikel ini membahas metode penentuan kelayakan suatu proyek pertambangan dengan pendekatan dinamis yaitu dengan konsep probabilitas. Model ini akan menutup kekurangan model studi kelayakan sebelumnya yang bersifat statis dan mengurangi penggunaan asumsi. Hasil analisis dari studi kelayakan model ini berupa skenario-skenario proyek, di mana jumlah skenario dengan NPV>0 dibagi dengan total jumlah skenario. Akhirnya, kelayakan proyek digambarkan dalam bentuk persentase tingkat keyakinan.

Model studi kelayakan dengan konsep probabilitas ini menggunakan model simulasi dan/atau teknik prediksi/peramalan untuk tiap variable yang tidak-pasti (uncertain). Kami merekomendasikan menyimulasikan nilai dari lima jenis variabel, yaitu harga komoditas, kadar rata-rata, recovery, biaya penambangan, dan tingkat suku bunga atau discount rate. Teknik prediksi seperti regresi, exponential smoothing, atau autoregressive dapat juga digunakan untuk menentukan nilai variabel yang terpengaruh oleh waktu (time-series) seperti harga komoditas, biaya penambangan, dan tingkat suku bunga. Terlebih, sifat alamiah industri pertambangan bersifat cyclical di mana harga komoditas memiliki siklus naik dan turun dalam skala makro. Kelima variable yang akan disimulasikan atau diprediksi tersebut menurut beberapa literatur merupakan variable krusial pada analisis studi kelayakan proyek pertambangan (Ardian dan Kumral, 2020).

Simulasi Nilai Variabel

Suatu kombinasi simulasi/prediksi nilai variabel dianggap sebagai sebuah skenario sehingga akan dihasilkan sejumlah skenario yang menyebabkan nilai NPV, IRR, maupun payback period yang bervariasi. Prinsipnya, semakin banyak jumlah skenario akan semakin baik, beberapa penelitian menggunakan 1.000 hingga 1.000.000 skenario. Namun, jika terpaksa hanya mampu melakukan sedikit skenario, paling tidak terdapat rentang nilai NPV yang sering muncul di mana hal tersebut dianggap sebagai nilai yang diharapkan (expected value). Gambar di bawah menunjukkan 100.000 nilai NPV yang berbeda berdasar hasil simulasi lima variabel tidak-pasti tersebut.

Sumber: Ardian dan Kumral (2020)

Gambar di atas menunjukkan rentang nilai NPV dari sekitar –$200 juta hingga $400 juta dengan frekuensi yang bervariasi. Gambar tersebut juga mengilustrasikan tingkat keyakinan kelayakan proyek tersebut. Proyek tersebut dianggap layak dengan tingkat keyakinan sebesar 87% di mana sesuai dengan teori bahwa NPV lebih dari 0 dianggap layak (lihat jumlah skenario di sisi kanan garis merah pada titik $0). Selain itu, proyek dengan model simulasi di atas memberikan nilai harapan NPV sekitar $100 juta, yaitu berdasar skenario NPV dengan frekuensi terbanyak.

Bila dibandingkan dengan penggunaan nilai variabel-variabel berdasar asumsi dan bersifat statis, maka akan menghasilkan hanya satu nilai NPV yang rawan dimanipulasi untuk menghasilkan nilai NPV yang diinginkan. Sebagai contoh, dengan kombinasi asumsi sedemikian rupa mendapatkan nilai NPV $300 juta, tapi sebenarnya hanya terdapat sekitar 1.000 kejadian di antara 100.000 skenario atau sekitar 1% kemungkinannya hal tersebut terjadi (lihat gambar).

Melihat tingkat risiko di industri pertambangan yang cukup tinggi karena ketidakpastian di masa depan, seperti jatuhnya harga komoditas atau rendahnya kadar rata-rata yang tertambang, hal tersebut memberi kemungkinan proyek menjadi tidak layak atau dengan kata lain NPV < 0. Dari gambar yang sama, terlihat bahwa ada kemungkinan 13% proyek tersebut tidak layak atau merugikan secara ekonomi. Hal ini memberi gambaran kelayakan proyek yang lebih realistis bahwa risiko gagal sebuah investasi selalu ada.

Rekomendasi

Dari sisi praktis di lapangan, dibutuhkan waktu yang tidak sedikit dari proses sejak studi kelayakan dibuat, disetujui oleh pemerintah, hingga pengimplementasian hasil studi kelayakan. Selama proses tersebut, sangat mungkin terjadi perubahan nilai dari variabel-variabel yang sensitif terhadap waktu (time-series) seperti harga, biaya, dan tingkat suku bunga. Model studi kelayakan pada artikel ini telah mencakup perubahan-perubahan tersebut. Artinya, perubahan nilai beberapa variabel yang terjadi karena waktu akan tertangkap dalam bentuk skenario-skenario kemungkinan.

Saat ini, risiko pada dokumen FS direpresentasikan dengan nilai discount rate dan profil risiko digambarkan menggunakan analisis sensitivitas. Akan tetapi, nilai discount rate tidak mampu menangkap kejadian langka (extreme event) seperti krisis global dan pandemi yang biasanya memberi efek nilai NPV mendadak naik atau turun. Sedangkan analisis sensitivitas melihat perubahan nilai NPV, IRR, dan payback period dengan mengubah nilai hanya satu variabel, tapi nilai variabel lainnya dianggap tetap. Menurut analisis sensitivitas, jika perubahan kecil pada, misalnya, harga komoditas turun 5% menghasilkan NPV < 0, hal tersebut menjadi semacam lampu kuning bagi para stakeholder. Sayangnya, analisis sensitivitas dianggap kurang representatif karena hanya mengubah satu variable pada satu waktu. Padahal, di masa depan, perubahan satu variabel biasanya diikuti oleh variabel lainnya. Contohnya, harga komoditas tinggi akan diikuti biaya penambangan yang meningkat juga atau ketika nilai kadar rata-rata semakin tinggi akan mengakibatkan nilai recovery yang semakin tinggi juga.

Kesimpulannya, model studi kelayakan ini menggunakan konsep probabilitas dengan persentase tingkat keyakinan untuk menentukan kelayakan suatu proyek pertambangan. Untuk menghasilkan nilai NPV, IRR, dan payback period yang bervariasi dapat menggunakan model simulasi (Monte-Carlo atau proses stokastik) atau teknik prediksi (regresi atau exponential smoothing). Harapannya, hasil analisis studi kelayakan menjadi lebih realistis karena menggunakan nilai variabel yang dinamis dan penggunaan asumsi yang lebih sedikit.

Harapannya, hasil analisis studi kelayakan menjadi lebih realistis karena menggunakan nilai variable yang dinamis dan penggunaan asumsi yang lebih sedikit.

Selain itu, diharapkan penilaian layak atau tidaknya suatu proyek pertambangan tidak kaku hanya melihat satu nilai NPV, IRR, dan payback period saja, tetapi melihat dari berapa persen tingkat keyakinan bahwa proyek tersebut memberi NPV lebih dari 0. Misalnya, suatu proyek pertambangan dianggap layak jika tingkat keyakinan NPV > 0 di atas 50% atau 75%.

Editor: Chaesary Husna R.

Previous

Pelatihan Persetujuan Teknis dan Pemantauan Lingkungan untuk Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Manokwari, Papua Barat

Next

Exclusive Open Pit Geotechnical Training (26 – 28 February 2024)